Ade Fitrie Kirana Prihatin Lonjakan ODGJ, Singgung Pentingnya Kesehatan Mental

JAKARTA – Masalah kesehatan mental anak dan perempuan menunjukkan peningkatan. Di Yogyakarta misalnya, berdasarkan data terbaru kasus gangguan jiwa dan depresi dengan angka ODGJ berat mencapai lebih dari 1.200 kasus pada 2024, sementara survei kesehatan nasional menempatkan DIY sebagai salah satu daerah dengan prevalensi tertinggi gejala psikosis dan skizofrenia. Baca Juga : Viral! 2 Perempuan Berantem Rebutan Cowok, Saling Jambak saat Mendaki Gunung Talang Artis Ade Fitrie Kirana yang juga aktivis sosial dan advokat perlindungan anak–perempuan, menyerukan respons serius dan terstruktur. Menurutnya, krisis ini bukan semata soal kesehatan, tetapi soal masa depan keluarga Indonesia, terutama anak dan perempuan yang menjadi kelompok dengan kerentanan tertinggi. “Anak-anak kita tumbuh dalam tekanan digital, tetapi tidak tumbuh dalam dukungan yang memadai,” kata Ade.
Padahal, tutur Ade, Yogyakarta identik dengan ketenangan dan atmosfer humanis, kini bergeser menjadi ruang dengan tekanan sosial yang tak kasat mata. Ia menjelaskan bahwa akumulasi dari paparan media sosial, minimnya interaksi alami, kecanduan gawai, hingga lingkaran judi online telah menjadi “kombinasi mematikan” bagi kesehatan mental generasi muda. Menurutnya, banyak anak di bawah usia 10 tahun kini menunjukkan gejala gangguan fokus, keterlambatan bicara, hingga perilaku menyerupai autisme yang dipicu oleh kurangnya stimulasi sosial dan kedekatan emosional di rumah. “Mereka tumbuh bersama layar, bukan tumbuh bersama manusia,” ujarnya.
Lebuh jauh, Ade menilai bahwa remaja Yogyakarta saat ini hidup dalam pola pembandingan sosial yang ekstrem. Mereka membandingkan pencapaian, gaya hidup, hubungan, dan bahkan kebahagiaan dengan standar visual di media sosial. “Kesehatan mental bukan hanya tentang depresi berat. Ini tentang anak-anak yang tidak lagi merasa cukup, remaja yang tidak lagi mengenali dirinya sendiri, dan perempuan yang hidup dalam tekanan menjadi sempurna. Itu semua bisa merusak secara perlahan,” tuturnya.
Ade juga menyinggung fenomena meningkatnya komentar negatif, cyberbullying, serta budaya membungkam emosi. Menurutnya, kesulitan untuk bercerita kini menjadi akar dari banyak kasus depresi di usia muda. Yogyakarta juga mencatat lonjakan kasus depresi akibat judi online yang makin marak.
Ade Fitrie Kirana, yang dalam beberapa tahun terakhir memutuskan bergeser dari dunia hiburan ke dunia sosial, dan juga aktif sebagai pengusaha yang ditekuninya sejak tahun 2000, menilai kondisi ini sebagai “bom waktu sosial.” Ia menggambarkan bagaimana banyak keluarga, terutama ibu dan anak, menjadi korban tak langsung dari kecanduan judol. Mulai dari utang, keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan, hingga putusnya hubungan emosional dengan anak. “Ketika orang dewasa hancur oleh tekanan itu, anak selalu menjadi korban pertama,” ujar Ade.
Ade mengingatkan bahwa pandemi memberikan dampak panjang yang belum selesai dipulihkan. Selama masa pembatasan, ribuan keluarga kehilangan koneksi sosial, rasa aman, dan kestabilan ekonomi.
Menurut Ade, kondisi inilah yang membuat gelombang gangguan mental pasca-pandemi terus meningkat. “Banyak orang tumbuh dengan trauma sunyi yang tak pernah diproses,” ujar dia. Terkait beberapa penyebab di atas, Ade Fitrie Kirana mendorong pemerintah memperkuat prioritas di sektor kesehatan mental, dari Layanan kesehatan mental gratis dan mudah diakses, program literasi digital untuk keluarga agar orang tua bisa memahami bahaya paparan layar pada perkembangan otak anak, ruang aman untuk bercerita hingga pelatihan penguatan emosional di sekolah, agar anak-anak tidak kehilangan kemampuan bersosialisasi dan mengelola tekanan.

Leave a Reply